Hitotsu, Jinkaku kansei ni tsutomuru koto

  1. Cari Kesempurnaan Karakter 

Karakter

Seni beladiri karate lebih dari sekedar latihan fisik. Semua pemula, terutama yang muda, harus diajarkan pentingnya membangun karakter melalui disiplin dan pelatihan yang ketat. Untuk pemula, proses pembentukan karakter dimulai dengan menyempurnakan teknik melalui pengulangan. Semangat untuk bertarung akan tercapai ketika seseorang semakin percaya diri melalui pengembangan teknik yang semakin kuat.

Latihan untuk membangun semangat, bukan hanya untuk bertarungtetapi untuk mengatasi masalah pribadi terutama di saat mengalami sakit, krisis kehidupan, atau masalah bisnis. Inilah perjalanan panjang untuk mengembangkan nilai-nilai spiritual,tetapi begitu konsep tersebut dipahami dan dialami, itu akan memberikan manfaat seumur hidup berupa kekuatan batin dan kedamaian.

Hitotsu, Makoto no Michio o manoru koto

  1. Bersikap Setia/ Loyal

Kesetiaan

Sikap setia adalah tradisi yang kuat dari kaum samurai dan termasuk warisan pengaruh Konfusius terhadap nilai keluarga dan seni bela diri. Kesetiaanharus ditunjukkan kepada sensei(guru) dan dojo. Seorang murid harus selalu patuh kepada sensei-nya seperti yang ditunjukkan seorang samurai di abad pertengahan kepada tuannya,setia sampai mati tanpa keraguan. Mungkin kesetiaan seperti itu terasa kurang lazim di masa sekarang ini, tetapi tidak masuk akal berharap seorang senseimau mengajarkan semua ilmunya kepada seorang murid yang kemungkinan akan meninggalkannya karena berbagai alasan yang tidak terlalu prinsipil. Murid harus membuktikan kesetiaannya selama bertahun-tahun. Kepatuhan dan kesetiaan yang ditunjukkan kepada senseiakan dibalasdenganpengetahuan dan kebijaksanaan untuk sang murid,dimana ikatanantarasenseidan murid menjadi sangat berharga dan ini merupakan pondasi kuat dalamproses pembelajaran. 

 

Hitotsu, Doryoku no seishin o yashinau koto

  1. Berusaha Dengan Keras

Upaya

Berusaha keras artinya dedikasi dan komitmen penuh diperlukan untuk mencapai penguasaan seni bela diri karate. Tidak mungkin ada orang yang memiliki keahlian tanpa usaha yang keras dan pengorbanan. Usaha tersebut harus tulus dan tidak dibuat-buat. Upaya serius yang dilakukan seorang murid akan mendapat penghargaan dari sensei-nya, berupa lebih banyak waktu bersamanya.

 

Hitotsu, Reigi o omonzuru koto

  1. Hormati Orang Lain

Etika

Menghormati orang lain adalah bagian penting dari budaya Jepang dan Okinawa, dan itu lazim bagi ajaran seni bela diri. Gichin Funakoshi menekankan bahwa karate dimulai dan diakhiri dengan etika. Dia juga menyatakan bahwa “tanpa rasa hormat,tidak perluada dojo”. Inilah cerminan sifat formal orang Jepang, yang dapat diamati mereka sering membungkuk hormat di tempat latihan, rumah atau kantor. Etika Dojo sudah didefinisikan dengan baik. Anda membungkuk hormat untuk menunjukkan rasa hormat kepada segala yang Anda lakukan,dimanapun Anda berada. Rasa hormat ditujukan kepadasemua hal, kepada sensei, orang tua, pengajar, keluarga, orang yang sudah meninggal,alam dan lain-lain. 

 

Hitotsu, Kekki no yuu imashimuru koto

  1. Menahan Diri Dari Perilaku Kekerasan

Pengendalian Diri

Petarung yang terlatih adalah seseorang yang memiliki semangat kompetitif yang tinggi dan kekuatan yang besar sehingga tidaklah bijak menggunakannya melawan orang yang tidak terlatih. Semangat seorang karate-ka tidak terkalahkan tetapidia harus menggunakan keahliannya hanya untuk membela keadilan. Seseorang yang berkarakter dapat menghindari perkelahian karena dia mampu mengendalikan emosinya dan merasa damai dengan dirinya sendiri. Dia tidak harus menguji kemampuannya di jalan. Dia menang tanpa bertarung dan dia tidak akan menyesal karena tidak ada pihak yang akan terluka. Sikap menghindari perilaku kekerasan ini sulit untuk dimengerti oleh orang Barat karena faktor lingkunganmereka, atau sikap harus menang dan sikap selalu terburu-buru, dimana hal-hal tersebutbertentangan dengan prinsip karate-do dan dojo kun. Oleh karena itu para instruktur perlu terus mengingatkan muridnya akan pentingnya dojo kun ini.